Sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali
Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa,
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.
Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.
Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.
Sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.
Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.
Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.
Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.
Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup!
Selasa, 02 September 2008
Air dan Kopi
Kopi : “Janganlah kamu meremehkan secangkir kopi kecil seperti saya. Hargaku cukup mahal. Orang yang minum saya mendapatkan hasil menakjubkan. Jiwa mereka jadi enteng dan rasa lelah pun akan hilang sehingga tidak lagi ngantuk”
Bir : “Mana bisa kopi dibandingkan dengan air seperti saya. Bir adalah minuman terbaik di dunia. Setelah minum, orang akan menjadi bersahabat dan romantis. Selain itu, bir lebih mahal dari kopi, bisa 8x lipat dari harga kopi. Belum termasuk tip lho!”
Kopi : “Oke.. Walaupun saya bukan yang terbaik, saya lebih baik dari yang lain. Paling tidak saya harus bertanya kepada segelas air jernih untuk lebih meyakinkan. Ia hanya minuman gratis di meja ini. Ia tidak berharga sama sekali. Haha.. Menggelikan!”
Air jernih : ” Jangan memandang rendah saya. Walaupun saya lebih tak berharga dibanding kalian dalam restoran ini, di gurun pasir saya adalah minuman yang paling menyenangkan”
Teh : “Air jernih masuk akal. Ijinkanlah saya, Merk Special teh Oo Long memberikan penjelasan. Di dunia ini, tidak ada perbedaan nyata atas segala sesuatu yang berharga. Segalanya berharga dan indah apa adanya. Dalam batas-batas nilai uang, teh yang bagus, seperti diriku berharga Rp.50.000.-/ons. Saya tidaklah lebih murah dari kalian berdua. Banyak orang tak peduli pada kopi dan bir, tapi mempunyai minat khusus pada diriku. Dalam menulis dan berpikir, secangkir kopi adalah teman yang baik. Saat bergaul dan perayaan, segelas bir yang baik akan terasa begitu menyenangkan. Dan untuk menghilangkan haus dan menambah cairan tubuh, air jernih adalah yang penting sebagai penyelamat hidup. Maka itu, segala sesuatu di dunia ini memiliki kualitas unik masing-masing. Tak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain. Bila kamu air, perankanlah air sebaik-baiknya. Bila kamu kopi, perankanlah kopi sebaik-baiknya”
Segala sesuatu adalah diri sendiri, tak perlu memutuskan baik vs buruk. Jika kamu adalah segelas air jernih, jangan merasa rendah diri. Air mempunyai artinya sendiri …..
Bir : “Mana bisa kopi dibandingkan dengan air seperti saya. Bir adalah minuman terbaik di dunia. Setelah minum, orang akan menjadi bersahabat dan romantis. Selain itu, bir lebih mahal dari kopi, bisa 8x lipat dari harga kopi. Belum termasuk tip lho!”
Kopi : “Oke.. Walaupun saya bukan yang terbaik, saya lebih baik dari yang lain. Paling tidak saya harus bertanya kepada segelas air jernih untuk lebih meyakinkan. Ia hanya minuman gratis di meja ini. Ia tidak berharga sama sekali. Haha.. Menggelikan!”
Air jernih : ” Jangan memandang rendah saya. Walaupun saya lebih tak berharga dibanding kalian dalam restoran ini, di gurun pasir saya adalah minuman yang paling menyenangkan”
Teh : “Air jernih masuk akal. Ijinkanlah saya, Merk Special teh Oo Long memberikan penjelasan. Di dunia ini, tidak ada perbedaan nyata atas segala sesuatu yang berharga. Segalanya berharga dan indah apa adanya. Dalam batas-batas nilai uang, teh yang bagus, seperti diriku berharga Rp.50.000.-/ons. Saya tidaklah lebih murah dari kalian berdua. Banyak orang tak peduli pada kopi dan bir, tapi mempunyai minat khusus pada diriku. Dalam menulis dan berpikir, secangkir kopi adalah teman yang baik. Saat bergaul dan perayaan, segelas bir yang baik akan terasa begitu menyenangkan. Dan untuk menghilangkan haus dan menambah cairan tubuh, air jernih adalah yang penting sebagai penyelamat hidup. Maka itu, segala sesuatu di dunia ini memiliki kualitas unik masing-masing. Tak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain. Bila kamu air, perankanlah air sebaik-baiknya. Bila kamu kopi, perankanlah kopi sebaik-baiknya”
Segala sesuatu adalah diri sendiri, tak perlu memutuskan baik vs buruk. Jika kamu adalah segelas air jernih, jangan merasa rendah diri. Air mempunyai artinya sendiri …..
Aku Sangat Mendambakan Cintamu (untuk yang tak pernah lelah mencintai)
Pada suatu hari yang gelap di musim gugur 1942, udara
dingin, sangat dingin. Hari itu tak ada bedanya dengan
hari-hari lain di kamp konsentrasi Nazi. Aku berdiri menggigil
dalam pakaian compang-camping yang tipis, masih
tak percaya bahwa mimpi buruk ini benar-benar terjadi.
Aku hanya seorang anak laki-laki. Seharusnya aku bermainmain
bersama kawan-kawanku; seharusnya aku pergi ke
sekolah; seharusnya aku bersemangat menyongsong masa
depanku, ketika aku akan menjadi dewasa, menikah, dan
membangun keluargaku sendiri. Tetapi, semua impian itu
hanya pantas untuk mereka yang masih hidup, dan aku
bukan lagi salah satu dari mereka. Aku nyaris mati, mencoba
bertahan hidup dari hari ke hari, dari jam ke jam,
sejak aku diseret dari rumahku dan dibawa ke sini bersama
puluhan ribu orang Yahudi lainnya. Apakah besok aku masih
hidup? Apakah malam ini aku akan dibawa ke kamar gas?
Aku berjalan mondar-mandir di dekat pagar kawat berduri,
mencoba menghangatkan tubuhku yang kedinginan.
Aku lapar, tetapi sudah sejak lama aku kelaparan, lebih
lama dari yang ingin kuingat-ingat. Aku selalu kelaparan.
Makanan yang layak sepertinya hanya ada dalam mimpi.
Setiap hari semakin banyak di antara kami menghilang
begitu saja, masa lalu yang bahagia tampak semakin samar.
Aku kian tenggelam dalam keputusasaan.
Tiba-tiba, aku melihat seorang anak perempuan berjalan
di balik pagar kawat berduri. Anak itu berhenti dan memandangku
dengan mata sedih, mata yang seakan berkata
bahwa dia mengerti, bahwa dia juga tidak bisa menemukan
jawab mengapa aku ada di sini. Aku ingin membuang
pandang, aku malu dan canggung karena anak perempuan
asing itu melihatku dalam keadaan seperti ini. Tetapi, aku
tak kuasa mengalihkan mataku dari matanya.
Kemudian dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan
sebutir apel merah. Apel yang cantik, merah kemilau.
Sudah berapa lamakah sejak terakhir kalinya aku melihat apel
seranum itu?! Dengan waspada dia menoleh ke kanan dan
ke kiri, lalu sambil tersenyum penuh kemenangan cepatcepat
melemparkan apel itu melewati atas pagar. Aku lari
memungutnya, memeganginya dengan jari-jariku yang gemetar
dan membeku. Dalam duniaku yang penuh kematian,
apel itu menjadi lambang kehidupan, lambang cinta. Aku
mengangkat wajahku dan melihatnya menghilang di kejauhan.
Esok harinya, aku tak dapat menahan diri—pada waktu
yang sama aku berdiri di tempat yang sama, di dekat
pagar. Apakah aku gila mengharapkan dia datang lagi? Tentu
saja. Tetapi, di dalam hati aku bergantung pada seiris harapan
tipis. Dia telah memberiku harapan, aku harus bergantung
erat pada harapan itu.
Sekali lagi, dia datang. Sekali lagi, dia membawakan sebutir
apel untukku, melemparkannya lewat atas pagar
sambil tersenyum manis seperti kemarin.
Kali ini apel itu kutangkap, lalu kupegang tinggi-tinggi
agar dia melihatnya. Matanya berbinar. Apakah dia mengasihaniku?
Mungkin. Aku tidak peduli. Aku cukup senang
bisa memandangnya. Dan untuk pertama kalinya sejak sekian
lama, aku merasa hatiku bergetar karena luapan perasaanku.
Tujuh bulan lamanya kami bertemu seperti itu. Kadangkadang
kami bertukar kata. Kadang-kadang, hanya sebutir
apel. Tetapi, bukan hanya perutku yang diberinya makanan.
Dia bagaikan malaikat dari surga. Dia memberi makanan
untuk jiwaku. Dan entah bagaimana, aku tahu aku juga
memberinya makanan.
Suatu hari, aku mendengar kabar mengerikan: kami
akan dipindahkan ke kamp lain. Itu bisa berarti kiamat
bagiku. Yang jelas, itu merupakan akhir pertemuanku dengan
kawanku itu.
Esok harinya ketika aku menyapanya, dengan hati
hancur kukatakan apa yang nyaris tak kuasa kusampaikan,
"Besok jangan bawakan aku apel," kataku kepadanya.
"Aku akan dipindahkan ke kamp lain. Kita takkan pernah
bertemu lagi." Sebelum kehilangan kendali atas diriku, aku
berbalik dan berlari menjauhi pagar. Aku tak sanggup
menoleh ke belakang. Kalau aku menoleh, aku tahu dia
akan melihatku berdiri canggung sementara air mata
mengalir membasahi wajahku.
Bulan demi bulan berlalu. Mimpi buruk itu terus
berlanjut. Tetapi kenangan akan anak perempuan itu mem-
bantuku mengatasi saat-saat mengerikan, rasa sakit, dan
rasa putus asa. Berkali-kali aku melihatnya dengan mata
pikiranku; aku melihat wajahnya dan matanya yang lembut.
Aku mendengar kata-katanya yang lembut dan
mencecap manisnya apel-apel itu.
Sampai pada suatu hari, mimpi buruk itu tiba-tiba
berakhir. Perang sudah selesai. Kami yang masih hidup
dibebaskan. Aku telah kehilangan semua milikku yang
berharga, termasuk keluargaku. Tetapi aku masih menyimpan
kenangan akan anak perempuan itu, kenangan yang
kusimpan dalam hati dan memberiku kemauan untuk
meneruskan hidupku setelah aku pindah ke Amerika untuk
memulai hidup baru.
Tahun-tahun berlalu. Sampai tahun 1957. Saat itu aku
tinggal di New York City. Seorang kawan memaksaku
melakukan kencan buta dengan seorang wanita kawannya.
Dengan enggan, aku menyetujuinya. Ternyata wanita
itu manis, namanya Roma. Seperti aku, dia juga seorang
imigran. Dengan begitu setidak-tidaknya kami punya persamaan.
"Di mana kau selama masa perang?" Roma bertanya
kepadaku, dengan cara halus seperti umumnya para imigran
yang saling bertanya tentang tahun-tahun itu.
"Aku ada di sebuah kamp konsentrasi di Jerman," jawabku.
Mata Roma tampak menerawang, seakan-akan dia ingat
sesuatu yang manis namun membuatnya sedih.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku ingat masa laluku, Herman," Roma menjelaskan
dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat lembut. "Wak-
tu masih kecil, aku tinggal dekat sebuah kamp konsentrasi.
Di sana ada seorang anak laki-laki, seorang tahanan.
Selama beberapa bulan aku selalu mengunjunginya setiap
hari. Aku ingat, aku biasa membawakan apel untuknya.
Aku selalu melemparkan apel itu lewat atas pagar. Anak
itu senang sekali."
Roma mendesah panjang, lalu meneruskan, "Sulit menggambarkan
bagaimana perasaan kami masing-masing—
bagaimanapun waktu itu kami masih muda sekali. Bahkan
jika situasi memungkinkan pun kami hanya bertukar beberapa
kata—tetapi aku yakin, waktu itu di antara kami
tumbuh cinta yang tulus. Aku yakin dia pasti dibunuh seperti
yang lain-lain. Tetapi, aku tak sanggup membayangkan
itu. Karenanya, aku berusaha mengenangkan dia seperti
yang kulihat di bulan-bulan itu, ketika kami sedang bersama-
sama."
Dengan jantung berdegup kencang hingga kupikir
nyaris meledak, aku menatap Roma lekat-lekat dan bertanya,
"Apakah pada suatu hari anak laki-laki itu berkata kepadamu,
'Besok jangan bawakan aku apel. Aku akan dipindahkan
ke kamp lain'?"
"Wah, ya," sahut Roma, suaranya bergetar.
"Tapi, Herman, bagaimana mungkin kau bisa tahu itu?"
Aku meraih tangannya dan menjawab, "Karena aku
adalah anak laki-laki itu, Roma."
Detik-detik berlalu lambat. Yang ada hanya keheningan.
Kami tak dapat mengalihkan mata kami. Lama kami saling
memandang. Kemudian, setelah tirai waktu terangkat,
kami mengenali jiwa di balik mata yang saling bertatapan,
kami mengenali kawan yang manis dan pernah sangat
kami cintai, yang selalu kami cintai, yang tak pernah
hilang dari kenangan kami.
Akhirnya, aku berkata, "Roma, aku pernah dipisahkan
darimu. Sekarang aku tidak ingin dipisahkan lagi darimu.
Sekarang aku bebas, aku ingin selalu bersamamu, selamanya.
Sayangku, maukah kau menikah denganku?"
Aku melihat binar-binar yang sama di mata yang dulu
sering kupandangi itu ketika Roma menjawab, "Ya, aku
mau menikah denganmu." Lalu kami berpelukan, pelukan
yang sudah kami dambakan selama berbulan-bulan, tetapi
terhalang oleh, pagar kawat berduri yang memisahkan
kami. Sekarang, tak ada lagi yang akan memisahkan kami.
Hampir empat puluh tahun telah berlalu sejak aku
menemukan Roma-ku lagi. Nasib mempertemukan kami
untuk pertama kalinya di masa perang, untuk menunjukkan
kepadaku adanya janji harapan. Sekarang, nasib pula yang
mempersatukan kami untuk menunaikan janji itu.
Hari Valentine tahun 1996. Kuajak Roma ke acara
Oprah Winfrey Show untuk menghormatinya di siaran
televisi nasional. Di depan jutaan pemirsa, aku ingin mengatakan
kepadanya apa yang kurasakan dalam hatiku
setiap hari:
"Kekasihku, kau memberiku makanan di kamp konsentrasi
ketika aku kelaparan. Aku akan tetap lapar dan
dahaga akan sesuatu yang rasanya takkan pernah cukup
kuperoleh: Aku lapar dan dahaga akan cintamu."
Herman dan Roma Rosenblat
Seperti diceritakan kepada Barbara De Angelis, Ph.D.
dingin, sangat dingin. Hari itu tak ada bedanya dengan
hari-hari lain di kamp konsentrasi Nazi. Aku berdiri menggigil
dalam pakaian compang-camping yang tipis, masih
tak percaya bahwa mimpi buruk ini benar-benar terjadi.
Aku hanya seorang anak laki-laki. Seharusnya aku bermainmain
bersama kawan-kawanku; seharusnya aku pergi ke
sekolah; seharusnya aku bersemangat menyongsong masa
depanku, ketika aku akan menjadi dewasa, menikah, dan
membangun keluargaku sendiri. Tetapi, semua impian itu
hanya pantas untuk mereka yang masih hidup, dan aku
bukan lagi salah satu dari mereka. Aku nyaris mati, mencoba
bertahan hidup dari hari ke hari, dari jam ke jam,
sejak aku diseret dari rumahku dan dibawa ke sini bersama
puluhan ribu orang Yahudi lainnya. Apakah besok aku masih
hidup? Apakah malam ini aku akan dibawa ke kamar gas?
Aku berjalan mondar-mandir di dekat pagar kawat berduri,
mencoba menghangatkan tubuhku yang kedinginan.
Aku lapar, tetapi sudah sejak lama aku kelaparan, lebih
lama dari yang ingin kuingat-ingat. Aku selalu kelaparan.
Makanan yang layak sepertinya hanya ada dalam mimpi.
Setiap hari semakin banyak di antara kami menghilang
begitu saja, masa lalu yang bahagia tampak semakin samar.
Aku kian tenggelam dalam keputusasaan.
Tiba-tiba, aku melihat seorang anak perempuan berjalan
di balik pagar kawat berduri. Anak itu berhenti dan memandangku
dengan mata sedih, mata yang seakan berkata
bahwa dia mengerti, bahwa dia juga tidak bisa menemukan
jawab mengapa aku ada di sini. Aku ingin membuang
pandang, aku malu dan canggung karena anak perempuan
asing itu melihatku dalam keadaan seperti ini. Tetapi, aku
tak kuasa mengalihkan mataku dari matanya.
Kemudian dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan
sebutir apel merah. Apel yang cantik, merah kemilau.
Sudah berapa lamakah sejak terakhir kalinya aku melihat apel
seranum itu?! Dengan waspada dia menoleh ke kanan dan
ke kiri, lalu sambil tersenyum penuh kemenangan cepatcepat
melemparkan apel itu melewati atas pagar. Aku lari
memungutnya, memeganginya dengan jari-jariku yang gemetar
dan membeku. Dalam duniaku yang penuh kematian,
apel itu menjadi lambang kehidupan, lambang cinta. Aku
mengangkat wajahku dan melihatnya menghilang di kejauhan.
Esok harinya, aku tak dapat menahan diri—pada waktu
yang sama aku berdiri di tempat yang sama, di dekat
pagar. Apakah aku gila mengharapkan dia datang lagi? Tentu
saja. Tetapi, di dalam hati aku bergantung pada seiris harapan
tipis. Dia telah memberiku harapan, aku harus bergantung
erat pada harapan itu.
Sekali lagi, dia datang. Sekali lagi, dia membawakan sebutir
apel untukku, melemparkannya lewat atas pagar
sambil tersenyum manis seperti kemarin.
Kali ini apel itu kutangkap, lalu kupegang tinggi-tinggi
agar dia melihatnya. Matanya berbinar. Apakah dia mengasihaniku?
Mungkin. Aku tidak peduli. Aku cukup senang
bisa memandangnya. Dan untuk pertama kalinya sejak sekian
lama, aku merasa hatiku bergetar karena luapan perasaanku.
Tujuh bulan lamanya kami bertemu seperti itu. Kadangkadang
kami bertukar kata. Kadang-kadang, hanya sebutir
apel. Tetapi, bukan hanya perutku yang diberinya makanan.
Dia bagaikan malaikat dari surga. Dia memberi makanan
untuk jiwaku. Dan entah bagaimana, aku tahu aku juga
memberinya makanan.
Suatu hari, aku mendengar kabar mengerikan: kami
akan dipindahkan ke kamp lain. Itu bisa berarti kiamat
bagiku. Yang jelas, itu merupakan akhir pertemuanku dengan
kawanku itu.
Esok harinya ketika aku menyapanya, dengan hati
hancur kukatakan apa yang nyaris tak kuasa kusampaikan,
"Besok jangan bawakan aku apel," kataku kepadanya.
"Aku akan dipindahkan ke kamp lain. Kita takkan pernah
bertemu lagi." Sebelum kehilangan kendali atas diriku, aku
berbalik dan berlari menjauhi pagar. Aku tak sanggup
menoleh ke belakang. Kalau aku menoleh, aku tahu dia
akan melihatku berdiri canggung sementara air mata
mengalir membasahi wajahku.
Bulan demi bulan berlalu. Mimpi buruk itu terus
berlanjut. Tetapi kenangan akan anak perempuan itu mem-
bantuku mengatasi saat-saat mengerikan, rasa sakit, dan
rasa putus asa. Berkali-kali aku melihatnya dengan mata
pikiranku; aku melihat wajahnya dan matanya yang lembut.
Aku mendengar kata-katanya yang lembut dan
mencecap manisnya apel-apel itu.
Sampai pada suatu hari, mimpi buruk itu tiba-tiba
berakhir. Perang sudah selesai. Kami yang masih hidup
dibebaskan. Aku telah kehilangan semua milikku yang
berharga, termasuk keluargaku. Tetapi aku masih menyimpan
kenangan akan anak perempuan itu, kenangan yang
kusimpan dalam hati dan memberiku kemauan untuk
meneruskan hidupku setelah aku pindah ke Amerika untuk
memulai hidup baru.
Tahun-tahun berlalu. Sampai tahun 1957. Saat itu aku
tinggal di New York City. Seorang kawan memaksaku
melakukan kencan buta dengan seorang wanita kawannya.
Dengan enggan, aku menyetujuinya. Ternyata wanita
itu manis, namanya Roma. Seperti aku, dia juga seorang
imigran. Dengan begitu setidak-tidaknya kami punya persamaan.
"Di mana kau selama masa perang?" Roma bertanya
kepadaku, dengan cara halus seperti umumnya para imigran
yang saling bertanya tentang tahun-tahun itu.
"Aku ada di sebuah kamp konsentrasi di Jerman," jawabku.
Mata Roma tampak menerawang, seakan-akan dia ingat
sesuatu yang manis namun membuatnya sedih.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku ingat masa laluku, Herman," Roma menjelaskan
dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat lembut. "Wak-
tu masih kecil, aku tinggal dekat sebuah kamp konsentrasi.
Di sana ada seorang anak laki-laki, seorang tahanan.
Selama beberapa bulan aku selalu mengunjunginya setiap
hari. Aku ingat, aku biasa membawakan apel untuknya.
Aku selalu melemparkan apel itu lewat atas pagar. Anak
itu senang sekali."
Roma mendesah panjang, lalu meneruskan, "Sulit menggambarkan
bagaimana perasaan kami masing-masing—
bagaimanapun waktu itu kami masih muda sekali. Bahkan
jika situasi memungkinkan pun kami hanya bertukar beberapa
kata—tetapi aku yakin, waktu itu di antara kami
tumbuh cinta yang tulus. Aku yakin dia pasti dibunuh seperti
yang lain-lain. Tetapi, aku tak sanggup membayangkan
itu. Karenanya, aku berusaha mengenangkan dia seperti
yang kulihat di bulan-bulan itu, ketika kami sedang bersama-
sama."
Dengan jantung berdegup kencang hingga kupikir
nyaris meledak, aku menatap Roma lekat-lekat dan bertanya,
"Apakah pada suatu hari anak laki-laki itu berkata kepadamu,
'Besok jangan bawakan aku apel. Aku akan dipindahkan
ke kamp lain'?"
"Wah, ya," sahut Roma, suaranya bergetar.
"Tapi, Herman, bagaimana mungkin kau bisa tahu itu?"
Aku meraih tangannya dan menjawab, "Karena aku
adalah anak laki-laki itu, Roma."
Detik-detik berlalu lambat. Yang ada hanya keheningan.
Kami tak dapat mengalihkan mata kami. Lama kami saling
memandang. Kemudian, setelah tirai waktu terangkat,
kami mengenali jiwa di balik mata yang saling bertatapan,
kami mengenali kawan yang manis dan pernah sangat
kami cintai, yang selalu kami cintai, yang tak pernah
hilang dari kenangan kami.
Akhirnya, aku berkata, "Roma, aku pernah dipisahkan
darimu. Sekarang aku tidak ingin dipisahkan lagi darimu.
Sekarang aku bebas, aku ingin selalu bersamamu, selamanya.
Sayangku, maukah kau menikah denganku?"
Aku melihat binar-binar yang sama di mata yang dulu
sering kupandangi itu ketika Roma menjawab, "Ya, aku
mau menikah denganmu." Lalu kami berpelukan, pelukan
yang sudah kami dambakan selama berbulan-bulan, tetapi
terhalang oleh, pagar kawat berduri yang memisahkan
kami. Sekarang, tak ada lagi yang akan memisahkan kami.
Hampir empat puluh tahun telah berlalu sejak aku
menemukan Roma-ku lagi. Nasib mempertemukan kami
untuk pertama kalinya di masa perang, untuk menunjukkan
kepadaku adanya janji harapan. Sekarang, nasib pula yang
mempersatukan kami untuk menunaikan janji itu.
Hari Valentine tahun 1996. Kuajak Roma ke acara
Oprah Winfrey Show untuk menghormatinya di siaran
televisi nasional. Di depan jutaan pemirsa, aku ingin mengatakan
kepadanya apa yang kurasakan dalam hatiku
setiap hari:
"Kekasihku, kau memberiku makanan di kamp konsentrasi
ketika aku kelaparan. Aku akan tetap lapar dan
dahaga akan sesuatu yang rasanya takkan pernah cukup
kuperoleh: Aku lapar dan dahaga akan cintamu."
Herman dan Roma Rosenblat
Seperti diceritakan kepada Barbara De Angelis, Ph.D.
Rencana Tuhan Indah pada Waktunya
Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa Suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat.
Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawa nya kemanapun ia mau.
Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.
Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata.
Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya.
Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.
Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun
tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.
Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter.
Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.
Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.
Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan.
Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, 'Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.'
Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan
menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.
Lalu Tuhan berkata, 'Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.' Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.
Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.
Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu
Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawa nya kemanapun ia mau.
Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.
Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata.
Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya.
Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.
Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun
tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.
Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter.
Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.
Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.
Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan.
Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, 'Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.'
Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan
menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.
Lalu Tuhan berkata, 'Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.' Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.
Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.
Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu
Si Kasih Sayang, Si Kejayaan & Si Kekayaan
Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan.
Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar.
Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"
Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar".
"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi.
Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini".
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama sama", kata pria itu hampir bersamaan.
"Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, sedangkan yang ini bernama "Kesuksesan", sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama "Kasih Sayang".
Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar.
Suaminya pun merasa heran. "Ohho... menyenangkan sekali.
Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan "Kekayaan."
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih Sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih Sayang."
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih Sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih Sayang menjadi teman santap malam kita."
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih Sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."
Si Kasih Sayang bangkit, dan berjalanmenuju beranda rumah.
Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta.
Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.
"Aku hanya mengundang si Kasih Sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?"
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundangsi Kasih Sayang, maka kemana pun Kasih Sayangpergi, kami akan ikut selalu bersamanya.
Dimana ada Kasih Sayang, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.
Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta.
Dan hanya si Kasih Sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus.
Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan, saat kami menjalani hidup ini."
Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar.
Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?"
Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar".
"Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi.
Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini".
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama sama", kata pria itu hampir bersamaan.
"Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, sedangkan yang ini bernama "Kesuksesan", sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama "Kasih Sayang".
Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar.
Suaminya pun merasa heran. "Ohho... menyenangkan sekali.
Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan "Kekayaan."
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih Sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih Sayang."
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih Sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih Sayang menjadi teman santap malam kita."
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih Sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."
Si Kasih Sayang bangkit, dan berjalanmenuju beranda rumah.
Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta.
Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.
"Aku hanya mengundang si Kasih Sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?"
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundangsi Kasih Sayang, maka kemana pun Kasih Sayangpergi, kami akan ikut selalu bersamanya.
Dimana ada Kasih Sayang, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.
Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta.
Dan hanya si Kasih Sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus.
Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan, saat kami menjalani hidup ini."
Senin, 01 September 2008
DUA KOTAK
Ada di tanganku dua buah kotak yang telah Tuhan berikan padaku untuk dijaga.
Kata-Tuhan "Masukkan semua penderitaanmu ke dalam kotak yang berwarna hitam. Dan
masukkan semua kebahagiaanmu ke dalam kotak yang berwarna emas."
Aku melakukan apa yang Tuhan katakan. Setiap kali mengalami kesedihan maka aku
letakkan ia ke dalam kotak hitam.
Sebaliknya ketika bergembira maka aku letakkan kegembiraanku dalam kotak
berwarna emas.
Tapi anehnya, semakin hari kotak berwarna emas semakin bertambah berat.
Sedangkan kotak berwarna hitam tetap saja ringan seperti semula.
Dengan penuh rasa penasaran, aku membuka kotak berwarna hitam.
Kini aku tahu jawabannya. Aku melihat ada lubang besar di dasar kotak berwarna
hitam itu, sehingga semua penderitaan yang aku masukkan ke sana selalu jatuh
keluar.
Aku tunjukkan lubang itu pada Tuhan dan bertanya, "Kemanakah perginya semua
penderitaanku?" Tuhan tersenyum hangat padaku.
"AnakKu, semua penderitaanmu berada padaKu."
Aku bertanya kembali, "Tuhan, mengapa Engkau memberikan dua buah kotak, kotak
emas dan kotak hitam yang berlubang?" "AnakKu, kotak emas Kuberikan agar kau
senantiasa menghitung rahmat yang Aku berikan padamu, sedangkan kotak hitam
Kuberikan agar kau melupakan penderitaanmu."
Ingat-ingatlah semua kebahagiaanmu agar kau senantiasa merasakan kebahagiaan.
Campakkan penderitaanmu agar kau melupakannya.
DARI MILIS MOTIVASI
Kata-Tuhan "Masukkan semua penderitaanmu ke dalam kotak yang berwarna hitam. Dan
masukkan semua kebahagiaanmu ke dalam kotak yang berwarna emas."
Aku melakukan apa yang Tuhan katakan. Setiap kali mengalami kesedihan maka aku
letakkan ia ke dalam kotak hitam.
Sebaliknya ketika bergembira maka aku letakkan kegembiraanku dalam kotak
berwarna emas.
Tapi anehnya, semakin hari kotak berwarna emas semakin bertambah berat.
Sedangkan kotak berwarna hitam tetap saja ringan seperti semula.
Dengan penuh rasa penasaran, aku membuka kotak berwarna hitam.
Kini aku tahu jawabannya. Aku melihat ada lubang besar di dasar kotak berwarna
hitam itu, sehingga semua penderitaan yang aku masukkan ke sana selalu jatuh
keluar.
Aku tunjukkan lubang itu pada Tuhan dan bertanya, "Kemanakah perginya semua
penderitaanku?" Tuhan tersenyum hangat padaku.
"AnakKu, semua penderitaanmu berada padaKu."
Aku bertanya kembali, "Tuhan, mengapa Engkau memberikan dua buah kotak, kotak
emas dan kotak hitam yang berlubang?" "AnakKu, kotak emas Kuberikan agar kau
senantiasa menghitung rahmat yang Aku berikan padamu, sedangkan kotak hitam
Kuberikan agar kau melupakan penderitaanmu."
Ingat-ingatlah semua kebahagiaanmu agar kau senantiasa merasakan kebahagiaan.
Campakkan penderitaanmu agar kau melupakannya.
DARI MILIS MOTIVASI
Minggu, 31 Agustus 2008
Ada Seseorang Menjagaku
Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika
wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih
itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir
bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan
menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan
kosong oleh si sopir. Kemudian dia duduk, meletakkan
tasnya di pangkuannya dan menyandarkan tongkatnya
pada tungkainya.
Setahun sudah lewat sejak Susan, tiga puluh empat,
menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan
penglihatannya dan tiba-tiba terlempar ke dunia yang gelap
gulita, penuh amarah, frustrasi, dan rasa kasihan pada
diri sendiri. Sebagai wanita yang sangat independen, Susan
merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya
kehilangan kemampuan, tak berdaya, dan menjadi beban
bagi semua orang di sekelilingnya. "Bagaimana mungkin
ini bisa terjadi padaku?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras
karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya dia
menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan
yang menyakitkan itu—penglihatannya takkan
pernah pulih lagi.
Ada Seseorang Menjagaku
Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu
optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan
berat yang menguras tenaga dan membuatnya
frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung kepada Mark,
suaminya.
Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai
Susan dengan tulus. Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya,
dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam
keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan
kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan
Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang
militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai
situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran
paling sulit yang pernah dihadapinya.
Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana
dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa
naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota
sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap
hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggiran
kota yang berseberangan. Mula-mula, kesepakatan
itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa
melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa
melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi,
Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru—
membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan
harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati.
Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu
kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan
masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana
reaksinya nanti?
Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar
gagasan untuk naik bus lagi. "Aku buta!" tukasnya dengan
pahit. "Bagaimana aku bisa tahu ke mana aku pergi? Aku
merasa kau akan meninggalkanku."
Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi dia tahu apa
yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan
sore dia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan,
sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.
Dan itulah yang terjadi. Selama dua minggu penuh
Mark, mengenakan seragam militer lengkap, mengawal
Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari
Susan bagaimana caranya menggantungkan diri pada
indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menentukan
di mana dia berada dan bagaimana beradaptasi
dengan lingkungan yang baru. Dia menolong Susan berkenalan
dan berkawan dengan sopir-sopir bus yang dapat
mengawasinya dan menyisakan satu kursi kosong untuknya.
Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang
tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu
turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh
berkas di lorong bus.
Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu
Mark akan naik taksi ke kantornya. Meskipun pengaturan
itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama,
Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu
naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya
kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita
itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah
takut menghadapi tantangan apa pun dan tidak akan pernah
menyerah.
Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk
melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari Senin.
Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah
menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik.
Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan,
kesabaran, dan cinta Mark. Dia mengucapkan
selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke
arah yang berlawanan.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis... Setiap hari dijalaninya
dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu.
Dia berhasil! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal.
Pada hari Jumat pagi, seperti biasa Susan naik bus ke
tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum
turun, sopir bus itu berkata, "Wah, aku iri padamu."
Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya
atau tidak; Lagi pula, siapa yang bisa iri pada seorang
wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan
keberanian untuk menjalani hidup? Dengan penasaran,
dia bertanya kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang
kau iri padaku?"
Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi
dan dijagai seperti itu."
Susan tidak tahu apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia
bertanya, "Apa maksudmu?"
"Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang
pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan
mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan
bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu
terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu
dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu
pergi. Kau wanita yang beruntung," kata sopir itu.
Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun
secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa
merasakan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung,
karena Mark memberinya hadiah yang jauh lebih berharga
daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan
matanya untuk meyakinkan diri—hadiah cinta yang
bisa menjadi penerang di mana pun ada kegelapan.
Sharon Wajda
wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih
itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir
bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan
menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan
kosong oleh si sopir. Kemudian dia duduk, meletakkan
tasnya di pangkuannya dan menyandarkan tongkatnya
pada tungkainya.
Setahun sudah lewat sejak Susan, tiga puluh empat,
menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan
penglihatannya dan tiba-tiba terlempar ke dunia yang gelap
gulita, penuh amarah, frustrasi, dan rasa kasihan pada
diri sendiri. Sebagai wanita yang sangat independen, Susan
merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya
kehilangan kemampuan, tak berdaya, dan menjadi beban
bagi semua orang di sekelilingnya. "Bagaimana mungkin
ini bisa terjadi padaku?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras
karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya dia
menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan
yang menyakitkan itu—penglihatannya takkan
pernah pulih lagi.
Ada Seseorang Menjagaku
Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu
optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan
berat yang menguras tenaga dan membuatnya
frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung kepada Mark,
suaminya.
Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai
Susan dengan tulus. Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya,
dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam
keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan
kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan
Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang
militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai
situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran
paling sulit yang pernah dihadapinya.
Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana
dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa
naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota
sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap
hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggiran
kota yang berseberangan. Mula-mula, kesepakatan
itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa
melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa
melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi,
Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru—
membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan
harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati.
Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu
kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan
masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana
reaksinya nanti?
Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar
gagasan untuk naik bus lagi. "Aku buta!" tukasnya dengan
pahit. "Bagaimana aku bisa tahu ke mana aku pergi? Aku
merasa kau akan meninggalkanku."
Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi dia tahu apa
yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan
sore dia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan,
sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.
Dan itulah yang terjadi. Selama dua minggu penuh
Mark, mengenakan seragam militer lengkap, mengawal
Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari
Susan bagaimana caranya menggantungkan diri pada
indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menentukan
di mana dia berada dan bagaimana beradaptasi
dengan lingkungan yang baru. Dia menolong Susan berkenalan
dan berkawan dengan sopir-sopir bus yang dapat
mengawasinya dan menyisakan satu kursi kosong untuknya.
Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang
tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu
turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh
berkas di lorong bus.
Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu
Mark akan naik taksi ke kantornya. Meskipun pengaturan
itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama,
Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu
naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya
kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita
itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah
takut menghadapi tantangan apa pun dan tidak akan pernah
menyerah.
Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk
melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari Senin.
Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah
menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik.
Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan,
kesabaran, dan cinta Mark. Dia mengucapkan
selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke
arah yang berlawanan.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis... Setiap hari dijalaninya
dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu.
Dia berhasil! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal.
Pada hari Jumat pagi, seperti biasa Susan naik bus ke
tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum
turun, sopir bus itu berkata, "Wah, aku iri padamu."
Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya
atau tidak; Lagi pula, siapa yang bisa iri pada seorang
wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan
keberanian untuk menjalani hidup? Dengan penasaran,
dia bertanya kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang
kau iri padaku?"
Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi
dan dijagai seperti itu."
Susan tidak tahu apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia
bertanya, "Apa maksudmu?"
"Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang
pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan
mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan
bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu
terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu
dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu
pergi. Kau wanita yang beruntung," kata sopir itu.
Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun
secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa
merasakan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung,
karena Mark memberinya hadiah yang jauh lebih berharga
daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan
matanya untuk meyakinkan diri—hadiah cinta yang
bisa menjadi penerang di mana pun ada kegelapan.
Sharon Wajda
Langganan:
Postingan (Atom)
